Saturday, November 21, 2015

Islam Nusantara Perspektif Tradisi Pemikiran NU

Terma 'Islam Nusantara' jadi perbincangan warga Indonesia tak lama sesudah Pengurus Akbar Nahdlatul Ulama (PBNU) menetapkannya yang merupakan tema Muktamar NU Ke-33 di Jombang kepada tanggal 1—5 Agustus 2015, "Meneguhkan Islam Nusantara utk Peradaban Indonesia & Dunia". Beraneka diskusi digelar, demikian serta puluhan artikel muncul di sarana nasional, dari tulisan mahasiswa sampai Guru Agung. Tidak sempat berlangsung dalam peristiwa NU diawal mulanya tema Muktamar dapat meledak & menjadi bahan diskusi seramai ini.
kata Mutiara Islam
Di antara pemikiran yg muncul berkaitan 'Islam Nusantara' merupakan mengkomparasikannya bersama istilah 'Islam : The Straight Path' yg diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, 'Islam : Jalan Lurus', atau Islam : Shiratal Mustaqim. Memaknai 'Islam : The Straight Path' bersama 'Islam : Jalan Lurus' benar-benar tak memunculkan pergeseran pemahaman. Tetapi jadi persoalan akbar kalau menyamakan makna 'Islam : The Straight Path' (Islam : Jalan Lurus) dgn 'Islam : Sirathal Mustaqim'.

Rangkaian kata shirathal mustaqim terdapat dalam surah Al-Fatihah ayat 6 (enam) yg lengkapnya, ihdinas shirathal mustaqim. Tujuan kata shirath dalam nash tersebut yaitu 'agama Islam'. Sedangkan tujuan mustaqim dalam ayat tersebut yaitu 'kemapanan tidak dengan distorsi' (Ahmad As-Showy, 1813M). Maka jikalau dirangkai dalam satu kalimat, 'islam : Shiratal Mustaqim' memunculkan kekacauan arti yg bersumber dari kesalahan merangkai kata. Padahal Rasulullah saw menegaskan bahwa Islam itu kesaksian ketuhanan cuma Allah, kerasulan Muhammad saw, komitmen jalankan salat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadhan & berangkat haji dikala dapat(Imam Muslim, 875M).  kata mutiara islam

Muncul serta pemikiran mengkomparasikan 'Islam Nusantara' dgn istilah 'Islam Rahmatan lil 'Alamin'. Kalimat 'rahmatan lil 'alamin' ini terdapat dalam surah Al-Anbiya' ayat 107, wa ma arsalnaka illa rahmatan lil alamin (Saya tak utus engkau Muhammad kecuali buat mengasihi alam semesta). Ibn Abbas menegaskan bahwa subyek dari misi 'mengasihi alam semesta' ialah Nabi Muhammad saw. Sedangkan obyeknya yaitu seluruhnya umat manusia (At-Thabari : 919M). Sehingga rangkaian kata 'Islam rahmatan lil 'Alamin' serta menimbulkan kekacauan arti yg disebabkan oleh kesalahan merangkai kata.

Ke-2 rangkaian kata diatas telah lumayan ternama di tengah warga. Ke-2 fakta tersebut pasti problem akbar mengingat keduanya (shiratal mustaqim & rahmatan lil 'alamin) yaitu sektor dari nash Al-Qur'an. Padahal sudah jadi kesepakatan ulama bahwa cuma beberapa orang bersama kriteria tertentu saja yg miliki otoritas buat memaknai Al-Qur'an.

Terma 'Islam Nusantara' pun tak cocok dianalisa dgn pendekatan ilmu linguistik Arab teori nisbat. Dikarenakan kata 'Nusantara' dalam rangkaian 'Islam Nusantara'—dalam beragam tulisan para pemikir NU—itu bukan buat kategorisasi. Kata 'Nusantara' dalam konteks linguistic cuma menerangkan teritori di mana penghuninya memeluk agama Islam.

Demikian mendalami 'Islam Nusantara' dgn pisau analisa pernyataan Koentjaraningrat. Telah sepatutnya Koentjaraningrat berpendapat bahwa agama itu titah Tuhan & sebaiknya tak berupaya mengembangkan satu buah agama Islam khas Indonesia. Pendapat Koentjaraningrat tersebut berkesesuaian dgn prinsip Islam juga sebagai ajaran yg mapan tidak dengan distorsi (shirathal mustaqim). Cuma saja terma 'Islam Nusantara' bukanlah wujud pengembangan agama Islam.

Dulu dengan cara apa dgn terma 'Islam Nusantara'? Dua rangkaian kata ini sebenarnya membutuhkan penjelasan sederhana. 'Islam' & 'Nusantara' merupakan dua kata yg masing-masing memiliki makna, & ke-2 kata tersebut digabungkan utk menempa frasa. Sehingga jadilah rangkaian 'Islam Nusantara' yg memperlihatkan pertalian erat antara bidang yg diterangkan-menerangkan (Ramlan, 1985) walau tidak dengan memunculkan makna baru.

Dalam ilmu bahasa Indonesia type penggabungan kata ini dinamakan 'aneksi'. Sebab masuk dalam jenis 'aneksi' sehingga terma 'Islam Nusantara' sama saja dgn terma 'Islam di Nusantara'.

'Islam Nusantara' bersama makna yg sama akan dipahami dari perspektif gramatika Arab bahwa rangkaian dua kata 'Islam Nusantara' bukan susunan shifat-maushuf (sifat-yang disifati), melainkan susunan idlâfah (aneksi). Sebab itu di antara ke-2 kata tersebut terkandung kata imbuhan, sanggup berimbuhan min (dari) atau fî (di). Sampel, khâtamu hadîdin, artinya cincin 'dari' besi; qiyâmul lail, artinya salat 'di' tengah malam hri. Sehingga rangkaian 'Islam Nusantara' itu bukan bermakna 'Islam' disifati 'Nusantara', namun 'Islam hidup di Nusantara'. Kata 'Nusantara' bukan sifat dari Islam, tapi sbg idlâfah (KH. Subhan Ma'mun, 2015).

Sedangkan dari segi substansi, terma 'Islam Nusantara' itu paham & praktik keislaman di bumi Nusantara sbg hasil dialektika antara teks syariat dgn realita & budaya setempat. Spirit 'Islam Nusantara' ialah praktik berislam yg didahului dialektika antara nash syariah dgn realitas & budaya ruang umat Islam tinggal (Afifuddin Muhajir, 2015). kata mutiara islam

Perspektif ushul fiqh, proses dialektika antara nash syariah dgn realitas & budaya ruangan umat Islam tinggal itu sesuatu yg lumrah berlangsung bahkan tentu berjalan mengingat Islam itu ajaran yg universal. & 'Islam Nusantara' yaitu bentuk Islam juga sebagai agama universal mengingat dia sudah dipeluk oleh beberapa ratus juta warga Nusantara & sudah melahirkan beberapa ratus ribu product hukum & khazanah keislaman yang lain. Berangkat dari pemahaman diatas, tidak butuh takut Islam terdistorsi gara-gara muncul terma 'Islam Nusantara', atau bahkan kelak menyusul muncul terma 'Islam Amerika', 'Islam Eropa', 'Islam Australia', 'Islam Afrika, & yang lain.

Terlepas dari kajian sudut linguistiknya, terma 'Islam Nusantara' & 'Islam Rahmatan lil 'Alamin' memiliki spirit sama mengingat keduanya lahir dari rahim Nahdlatul Ulama. Cuma dari segi konsekuensinya, 'Islam Nusantara' tak problematik mengingat dirinya tak memunculkan kekacauan arti.

Dialektika Nash Syariah & Budaya Lokal

Warga muslim pesisir pantai kepada periode tertentu lakukan ritual 'sedekah laut'. Terdapat kajian menunjukkan bahwa 'sedekah laut' tersebut yakni wujud konversi kepercayaan non Islam ke agama Islam. Padahal 'sedekah laut' tersebut bukan bentuk konversi melainkan bentuk dari hasil dialektika antara nash syariah dgn budaya setempat. Artinya, 'sedekah laut' yg masihlah berkukuh ditengah warga tak pertentangan bersama Islam. Bila proses sedekah di laut itu sebatas konversi pasti ga ada gunanya Islam mereka anut. Demikian pula bersama kepercayaan pada Nyi Loro Kidul yg dianut oleh sebahagian muslim di pesisir pantai bukanlah wujud konversi tetapi hasil dialektika nash syariah dgn budaya.

Budaya yg sudah mendapati legitimasi nash syariah menjelma jadi ritual ibadah. Proses ini sesuatu yg lumrah berjalan di lingkungan para kiai di Nusantara. Maka keislaman penduduk Nusantara memiliki corak yg sama sebab referensi (masyrab wal ma'khadz) & rencana pemikirannya yg tunggal (ittifaqul ara'). KH Hasyim Asyari dalam kitabnya, Risalatu Ahlissunnah wal Jamaah mencatat penduduk Islam negara Jawa baru mengalami pertentangan & gesekan diwaktu memasuki thn 1912M. Problem sosial keagamaan ini disebabkan kemunculan group penentang (mutadafi'ah) & kelompok-kelompok yg mengusung aliran-aliran baru (mutanawwi'ah).

Tujuan mutadafi'ah disaat itu merupakan kemunculan grup mungil pendatang yg pernyataan & tabiat keislamannya memunculkan pertentangan ditengah warga Islam. Sedangkan tujuan mutanawwi'ah ketika itu merupakan kelompok-kelompok mungil pendatang yg masing-masing di antara mereka tidak serupa pemikiran & perilakunya maka nampak 'aneh-aneh'. Sehingga menghadapi grup mutadafi'ah & mutanawwi'ah yg ekspresif ini butuh kegiatan sistematis. Caranya bersama mendorong Nahdlatul Ulama buat memberikan perlindungan (jam'iyyatu aman) & memperjuangkan keadilan (jam'iyyatu 'adl) utk penduduk luas (KH Hasyim Asyari, 1928).

Memberikan perlindungan (jam'iyyatu aman) dalam konteks kemunculan group mutadafi'ah & mutanawwi'ah yaitu mendampingi warga muslim buat laksanakan ibadahnya, baik yg bersifat mahdhah (pure) ataupun ghairu mahdhah (social and culture). Resources warga pasti terbatas dibanding resources grup mutadafi'ah yg mungil & solid. Dikarenakan itu para kiai & piranti organiknya senantiasa mengupayakan hadir di tengah warga sbg wujud menjaga ketertiban sosial.

Sedangkan memperjuangkan keadilan (jam'iyyatu 'adl) dalam konteks kemunculan group mutadafi'ah & mutanawwi'ah ialah menempatkan para kiai yang merupakan intelektual organik yg berpikir obyektif. Penduduk muslim yg mengalami tekanan dari group mutadafi'ah & mutanawwi'ah diadvokasi buat meraih kembali hak ritualnya.

Para kiai tak cuma sekedar menuturkan ritual dari segi basis teoritisnya tetapi serta proses dialektika nash syariah bersama kebudayaan setempat. Bahasa kebudayaan buat mengekspresikan empati & rasa yg tak dapat diekspresikan oleh penduduk sendiri (Leszek Kolakowski, 1978) sekaligus basis teoritik yg jadi titik lemah warga.

Menambahkan Kebiasaan Pemikiran

Di antara kemampuan Nahdlatul Ulama merupakan laksanakan diaspora pemikiran yg tidak sempat putus sepanjang eksistensinya sejak 1926. Para kiai & group intelektual NU senantiasa melahirkan pemikiran & gagasan baru yg dapat menggugah umat Islam Indonesia utk larut dalam arus gagasannya. Sample, konsep agung NU yg dicetuskan terhadap waktu Muktamar di Surabaya thn 1927 yg menyerukan 'perang kebudayaan' melawan penetrasi budaya Barat yg disimbolkan oleh kolonial Belanda. Ketika itu asesoris dasi dilawan dgn kopyah, jas dilawan dgn pakaian koko, celana dilawan bersama sarung, sepatu dilawan bersama bakiak (doc. PBNU).

Kebiasaan berpikir & membangun rencana agung sampai jadi kebudayaan sudah jadi bidang mutlak kehidupan NU. Semestinya jikalau bangsa ini mau akbar rutinitas ini terkecuali tumbuh subur di kalangan NU tapi di sepanjang histori sebahagian agung beberapa orang Indonesia. Tetapi pass mungil para intelektual yg berminat di sektor ini.

Bagi grup tertentu, terma 'Islam Nusantara' itu diyakini rencana yg tak masuk akal maka pantas diremehkan. 'Islam Nusantara' dianggap yang merupakan sudut gelap agama Islam. Menuntut Ilmu dari logika Antoni Giddens, padahal jikalau mau memang mendalami kebiasaan butuh tak mempunyai anggapan 'Islam Nusantara' juga sebagai ketololan. Para intelektual muslim butuh jelang ide 'Islam Nusantara' dengan cara hati-hati.

Terma 'Islam Nusantara' pula sektor dari konsep kreatif para kiai yang merupakan bidang dari ekspresi kesetiaan kepada ilmu keislaman yg bercirikan tradisional. Terma 'Islam Nusantara' yg dijadikan tema Muktamar NU Ke-33 di Jombang terhadap tanggal 1—5 Agustus 2015 sebenarnya tak berdiri sendiri. Terma ini memiliki mata rantai bersama hasil riset KH Hasyim Asyari yg selanjutnya mencetuskan terma 'muslimul aqtharil Jawiyyah' (penduduk Islam Jawa & sekitarnya) kepada 1912M.
baca juga: kata kata mutiara islam